Alhamdulillah. Itulah kata pertama yang saya ucapkan setelah menyelesaikan penyuntingan dan penerbitan buku Pecinta Tuhan karya almarhum Ustadz Aang Baihaqi. Terbitnya buku tersebut saya harapkan dapat menjadi pelepasan beban psikologis yang selama ini saya rasakan. Mengapa demikian? Karena selama 2 tahun lebih saya kepikiran tentang hal tersebut. Dan rasanya tentu sangat tidak nyaman ketika kita kepikiran tentang suatu hal yang harus diwujudkan namun tidak terselesaikan.
17 January 2017
Di Balik Pecinta Tuhan
Alhamdulillah. Itulah kata pertama yang saya ucapkan setelah menyelesaikan penyuntingan dan penerbitan buku Pecinta Tuhan karya almarhum Ustadz Aang Baihaqi. Terbitnya buku tersebut saya harapkan dapat menjadi pelepasan beban psikologis yang selama ini saya rasakan. Mengapa demikian? Karena selama 2 tahun lebih saya kepikiran tentang hal tersebut. Dan rasanya tentu sangat tidak nyaman ketika kita kepikiran tentang suatu hal yang harus diwujudkan namun tidak terselesaikan.
Label:
Aang Baihaqi,
Agama,
Al-Amin,
Budaya,
buku Pecinta Tuhan,
pesantren
04 December 2016
Yang Terserak: Secuil Kisah Perjalananku
“Menyesali nasib
tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.” –K.H.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Beberapa minggu yang lalu, Hanif
Junaedy -adik kelasku di pesantren- mengirim sebuah pesan pribadi lewat
Facebook padaku. Ketika kubaca, isinya adalah informasi tentang lomba menulis
cerpen yang diadakan oleh CSS MoRA, organisasi yang menaungi para mahasiswa
penerima beasiswa S1 PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dari Kemenag
RI. Lomba cerpen tersebut bertema tentang kisah inspiratif para penerima
beasiswa PBSB. Aku, Juned (panggilanku pada Hanif Junaedy), dan beberapa teman
lainnya dari pesantrenku merupakan alumni program beasiswa tersebut.
Dia menanyakan padaku, apakah aku tidak
berminat untuk mengikuti lomba tersebut, karena menurutnya, kisahku sangat unik
dan inspiratif, sehingga sayang sekali kalau tidak ditulis dan diikutkan dalam
lomba tersebut. Aku pun membalasnya dengan mengatakan bahwa aku tidak bisa
menulis cerpen, hahaha... Ya, memang demikianlah kenyataannya. Namun di balik
itu, aku sebenarnya memiliki alasan yang lebih mendasar. Bagiku, kisah
perjalananku dari pesantren hingga mendapat beasiswa PBSB untuk studi S1 di
UGM, pengabdian di pesantrenku pasca-lulus S1, dan beasiswa dari IDB-UIN
Walisongo untuk studi S2 di Unair tidak layak untuk diikutkan dalam lomba
tersebut. Atau setidaknya, belum bisa dikatakan layak. Mengapa? Karena
menurutku, masih amat banyak kisah lain yang lebih unik dan inspiratif
dibandingkan kisah perjalananku. Selain itu, aku sendiri merasa “terlalu
berlebihan” kalau perjalananku itu disebut inspiratif.
08 July 2015
Pembangunan Minus Keadilan
Mochammad Said
Pada bulan April lalu, tepatnya 16 April 2015, kita dikejutkan dengan putusan PTUN Semarang yang ‘tidak mengejutkan’. Putusan tersebut menolak gugatan warga Rembang terkait pemberian izin lingkungan oleh Gubernur Jateng untuk penambangan dan pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. Padahal, kalau merujuk pada aturan hukum yang berlaku, ada beberapa pelanggaran hukum dalam proyek pabrik semen tersebut (kpa.or.id).
Pertama, penggunaan daerah karst Rembang sebagai area penambangan batuan kapur untuk bahan baku pabrik semen melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 Pasal 63 yang menetapkan area ini sebagai kawasan lindung imbuhan air dan Perda RTRW Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 Pasal 19 yang menetapkan area ini sebagai kawasan lindung geologi.
Relasi Perempuan dan Pembangunan
Mochammad Said
Konsep ‘pembangunan’ (development)
pada awalnya adalah proyek pasca zaman penjajahan yang digagas oleh
negara-negara barat sebagai solusi bagi permasalahan kemiskinan ekonomi di
negara-negara Dunia Ketiga. Asumsi dasarnya adalah bahwa kemajuan modern barat
merupakan model terbaik bagi kemajuan seluruh dunia, termasuk di negara-negara
Dunia Ketiga. Oleh karena itu, konsep pembangunan ini –yang menjiplak model
pembangunan negara-negara barat- dijadikan resep utama bagi penyelesaian
permasalahan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga (Shiva, 1997).
Namun, pertanyaan kritisnya adalah, apakah
resep ‘pembangunan’ tersebut selalu sesuai dengan kebutuhan negara-negara Dunia
Ketiga? Dalam kenyataannya, jawabannya tidaklah demikian. Pembangunan yang
cenderung dipaksakan tersebut ternyata justru jauh lebih banyak merugikan
daripada memberikan manfaat.
Label:
analisis sosial,
gender,
pembangunan,
perempuan,
Politik
17 June 2015
Membongkar Mitos Globalisasi
Mochammad Said
Globalisasi
adalah sebuah istilah yang populer bagi masyarakat kita saat ini. Ia menjadi
ungkapan yang menggambarkan proses perubahan dalam mekanisme perekonomian internasional
yang semakin mengglobal, di mana strategi perekonomian yang bersifat nasional
dianggap semakin tidak relevan. Globalisasi dianggap sebagai suatu proses yang
alamiah dan tak dapat terelakkan oleh siapapun.
Namun pertanyaannya, benarkah pengertian
di atas, dan apakah memang demikian kenyataannya?
Kalau
kita cermati secara lebih kritis, pengertian globalisasi ekonomi dalam artian
yang sebenarnya seperti di atas tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa?
Subscribe to:
Posts (Atom)